Kumpulan Puisi Galeh Pramudianto - SKENARIO MENYUSUN ANTENA

Comments · 137 Views

Data Kumpulan Buku Puisi
Judul : Skenario Menyusun Antena
Penulis : Galeh Pramudianto
Penerbit : Indie Book Corner, Yogyakarta
Cetakan : I, 2015
Tebal : iv + 222 halaman (131 puisi)
ISBN : 978-602-3091-17-1
Penyelaras aksara dan penata letak : Pertiwi Yuliana

Skenario Menyusun Antena terdiri atas 3 bagian, yaitu Skenario Menyusun Antena (57 puisi), Fabula dan Simptom Kamar (42 puisi) dan Layar Itu Tak Sempat Mengunjungi Kabar Engkau (32 puisi).
 
Sepilihan puisi Galeh Pramudianto dalam Skenario Menyusun Antena
 
KAWAT BERDURI
 
1998. aku jalan-jalan saja. kawat berduri. aku makan-makan saja.
bakar-bakar. aku jalan-jalan saja. koyak-moyak, kebiri. aku
makan-makan saja. gas air mata. aku ongkang-ongkang kaki saja.
baku hantam. aku baca buku saja. jarah! sejarah tak akan
bernanah. aku nonton televisi di atas genteng rumah. berdarah-
darah. aku mandi pake sabun saja. bising politik, gaduh suara-
suara. aku belum lahir saja. aku masih aku yang lain di
demonstrasi uang jajan membeli mobil-mobilan. ini bukan aku
saja. maaf, aku masih bau pasar dan kamar di congor dan tengik
riwayatku sendiri.
 
 
TINGGAL BAHASA
 
Aku rindu eskalator yang membawaku sampai di lembah baju-
baju. Kentang goreng, susu kotak, dan jus melon merekah dalam
kantong belanjaan. Aku rindu ruang merokok, yang
menggendongku beristirahat pada pekat polusi kota,
menenangkan dalam sebungkus hisap lesap.
Aku rindu pada ibu yang berbincang dengan kliennya bersama
donat dan moccacino di sudut ruko-ruko. Aku rindu bertemu Wiji
dan Warhol. O, apa mereka sarapan satu meja? Aku rindu pada
billboard di bulevar, menyalak, memeluk tubuh haus ini dalam
dekapan kaleng soda. Di praja aku tertinggal oleh lampu-lampu,
ditawan kartu kredit dan dijajah gosip-gosip. Kini hanya
bahasaku sahaja yang masih setia mengampu.
 

 
HANYA ENGKAU YANG BISA MEMBERI
JUDUL SAJAK INI
 
Rumah itu kosong. Tak ada lagi proyek-proyek. Cerobong asap
sudah mencair.
Engkau berbudaya ya? Tidak, aku barbar dan primitif.
 
Aku masih pada kiblatmu.
Begini ya, engkau harus tahu banyak dari aku-aku lainnya.
Tahu itu akan mendarat pada dirimu sendiri.
 
Begini ya, hanya engkau yang bisa memberi judul di sajak ini
Apa engkau masih percaya pada suara-suara dirimu sendiri
sayang?
Aku masih percaya, hanya engkau.
Hanya engkau yang bisa memberi judul di sajak ini
maka, letakkan kembali otakmu ke pangkuannya
jangan kau jemur selalu,
kering kerontang dapat melelehkan pikiranmu.
 
Kasihku, kumohon beri judul pada sajak ini
Kalau tidak, nanti aku bisa tenggelam di antara sajak-sajakku
sendiri. 
 
 
HOTEL
 
bunyi langkah kaki di tengah perut membal
suara dari luar mengetuk, pesanan datang.
mulutmu bau, oleh cuaca yang sering kamu manjain
suapaya kamu bisa makan dengan menu berbeda setiap hari.
 
bunyi seruan virtual di bawah kantung mata
telingamu budek, oleh suara yang menghasutmu
agar terus mondar-mandir tanpa bibir
bintik-bintik berkilauan, semilir angin menyibak.
 
bunyi kertas berserakan di atas lubang merah
jas dan koper berkeliaran
belum pada tidur
menjaga kita dari macam-macam kesibukan
 
bunyi jam dinding di samping jendela
badamu apek, oleh waktu yang sering kamu godain karena detik
bisa kamu ubah lewat jam tanganmu. wisata jarum ke jarum.
otakmu beku, oleh kota yang sering kamu pukulin karena
empuknya bukan main. lalu, kapan aku mampir ke dusun
surgamu?
 
 
AIUEO
 
seringkali kita bersuara
pada banyak muka romantika
yang kau tanam di paru-paru,
dan diluapkan lewat horison
menggema bersama mega, angka dan peristiwa-peristiwa.
 
 
KAU SELALU INGAT
 
kau selalu ingat dengan
perjumpaan mata yang tiba-tiba
di sudut rak buku perpustakaan
kutemui kau dalam sunyi yang gaduh
yang tenang dalam pandangan,
yang berisik dalam gemuruh jantung
 
kau selalu ingat dalam lautan wacana,
yang mengabdi pada kalimat padat
senantiasa memeluk kita dari kepayahan makna
 
kau selalu ingat pada halaman berapa kita dipertemukan buku
lalu bersimpuh pada lipatan kertas yang aku tandai
bersama jari lentikmu
 
kau selalu ingat lewat jalan mana kita akan tiba pada rumah
yang kita bangun beratap pada dongeng,
berbantal peribahasa
dan berselimut puisi
 
kau selalu ingat akan ingatan yang suka lenyap
diterkam kebuasan jam tangan yang telah kehabisan baterai
karena aku malas menggantinya dengan yang baru
 
kau selalu ingat pada bab dan paragraf berapa kita tersesat
dalam peran yang mencoba menculik kita
lewat asa dan subteks
yang kita kunyah sehari-hari
 
kau selalu ingat akan pertunjukan-pertunjukan kitsch
yang kita tonton karena hanya
merasa tidak enak saja
terhadap undangan teman yang dialamatkan
pada kita
 
kau selalu ingat di malam cepat saji, berlaut telur mata dingin
dan cerita-cerita yang sulit diterka
karena terlalu asin telur mata dingin
dan terlalu manis minuman
yang awalnya dipesan tanpa gula saja
 
kau selalu ingat bersama ingatan kita yang mulai lumpuh
diserang kawanan hanyut dan takut. kau masih ingat.
 
 
BIOGRAFI 60 DETIK DIMULAI DARI SEKARANG
 
Dalam hulu kata, aku telan bersama pijakan otak dan tubuhnya.
 
Di Lapangan Padat Malna
Di lapangan tandus, ada gedung-gedung bertingkat tumbuh di dadanya.
Langkah Landas Mas Iswadi
Di Cikini dan Kalibata. Kutipan orang gila di latihan. Cakra.
Taksu. Klakson di punggung mereka, dada di badan menyamar.
Meteor dan galaksi dalam sebungkus mi instan. Kopi menyulam,
dan rokok yang ditangguhkan. Lorong hening. Haru bening.
Bilik Pramoedya
Ia kentalkan mata pada halaman pekat perjuangan
Dalam Celana dan Kopi Jokpin
Dalam celana, ia sahur kopi dan membatalkan puasanya lewat puisi
Pada Basah Sapardi
Pada basah, ada air dari langit pada genggaman topinya.
Terselip huruf kecil memandang dari balik kacamata. Pada
basah ada berita becek di meja laptopnya
Di Sudut Meja Goenawan
Ada air mengalir dalam kekanakan matur tempat pensil dan
robekan kertasnya.
Di Teras Tempat Sitor
Darah mengalir dari saku baju yang terbuat dari kota, bangsa dan
kepulangan kesekian kalinya
Dalam Rambut Saut
Tersesat ribuan kilometer dalam pijar lampu dan akar tumbuh
subur di kepalanya
Celah-celah Kang Iman
Mengolah abdi di keramaian pagi yang khusyuk
Kacamata Bang Madin
Drama dan peristiwa, membangun teman dan taman-taman
Almanak Nano
Kalender kian bersepakat dengan jadwal tidurnya
Instagram Agus Noor
Cerita lahir dari citra padat.
M Aan Mansyur
“Huruf besar telah mati!” katanya kepada tuhan, menolak
keangkuhan.
Bakti Bakdi
Senandika pada yang seni
Rencana Drama
Rencana Rendra sebagian atau sudah semua dilakukan
Ayat Tambayong
Surah-nya dibaca secara seksama dengan seterang rambutnya
kata
Baju Ungu Bunda
Di baju ungunya, ada gema nurani berpantul di kancing baju dan
mata ketiganya. Anak duka dari bom perang, memeluknya
bersama mujahid kata.
Trisno Sumardjo
Mahakarya tersembunyi dalam gaduhnya seni-seni
Simulasi Baudrillard
Aku beli televisi di dalam Disneyland pagi hari
Absurditas Camus
Bolak-balik gunung, lelah mendarat pada asing yang
memberontak.
 
Dalam hilir dan obituari kata, kusumpahi sajak yang angkuh dan
sok tahu ini.
 
 
SALJU DI LOTENG TETANGGA
: Arman Dhani, Adimas Immanuel & Andi Gunawan
 
/1/
reklame melantunkan decit-decit risau
spanduk menggugurkan rona, parasnya menebarkan peluh
dalam jari-jari dan angin malam
khatam coba turun menyibak rinai
menunaikan senyap peranjat di layar dan snob itu.
 
/2/
nyeri telah setia pada hari berulang-ulang kali
macapat menggoreng sentak dingin dan piruk liuk
meringkuk menonton tirai dan salam badai
yang aku bertanya pada kecemasan melipat dada.
 
/3/
ada butir salju di wajan nyiprat itu
buihnya memantik-mantik di kaca-kaca
di atas loteng, di bawah tempat duduk
peneroka membaca kita di sepi-sepi hingar ini.
 
 
KAMAR GOSOK
 
baju-baju menggosok tubuhnya sendiri:
menjual basah dan keriput pada lipatan bahannya
lecak dan bercak pada sudut-sudut keramaian
meminta wangi pada tumpukan keringat kita.
 
 
RUANG OPERASI
 
ananda, jarum suntik itu masih meliuk dan tak mau pamit. ada dua
yang kau inginkan:
tak ada rotan cari ke hutan atau menang jadi pulang, kalah jadi
tanah.
 
 
KWATRIN AVONTUR
 
Alam tak perlu kau bela
Mereka tahu kemana nasibnya
Seperti debu yang datang tiap waktu
tak perlu kita mandikan selalu.
 
 
SINYAL TEH DAN ANTENA KOPI
 
kau adalah secangkir hangat
menenangkan memijat tenggorokan kerap kemarau
kau adalah seteguk rusuk mengaduk sunyi bersama pagut
bersamamu kita duduk menata gula,
hingga anyir itu nestapa dan moksa
 
kau adalah teh yang aku sesap
sebelum purnama jatuh
 
aku adalah kopi yang kau peluk
sebelum matari menari.
 
 
HALO
– dari riwayat telepon
 
Halo!
Iya? Ini siapa?
Halo. Kenapa?
Iya! Ini siapa?
Halo! Ya.
Ya. Ada apa? Ini siapa?
Bisa bicara dengan telepon?
Oh, maaf salah sambung.
Halo! Halo!
Tut. Tut. Tut.
Halo!
Iya? Ini siapa?
Halo. Kenapa?
Iya! Ini siapa?
Halo! Ya.
Ya. Ada apa? Ini siapa?
Bisa bicara dengan halo?
Oh, maaf, halo sedang jalan-jalan.
Halo! Halo! Halo!
Tut. Tut. Tut.
 
 
SWAFOTO
 
Tanganmu basah. Meja makannya banjir. Selfie. Lautnya kering.
Pasirnya tandas. Selfie. Gunungnya terbang. Pohonnya dansa.
Selfie.Mobilnya minjam. Rodanya bundar. Selfie.Panggungnya
roboh. Lampunya tandas. Selfie.  Bajunya basah. Keringatnya
kering. Selfie.  Rumputnya ranggas. Sayap belalang patah. Selfie.
Kotanya olahraga. Jalan tidur siang. Selfie. Rambutnya belum
keramas. Ketombe perang. Selfie. Keringatnya loncat. Jerawat
debat. Selfie. Nasinya belum matang. Piring belum dicuci. Selfie.
Buku belum dibaca. Kata-kata sidang isbat. Selfie.  Bon lecek.
Angka-angka muncrat. Selfie. Kameranya lagi dipinjam. Tangan
keseleo. Selfie. Mukanya lagi disewa. Mata sedang kondangan.
Selfie. Fotonya nyebur ke sumur. Bayangannya tamasnya ke pusat
perbelanjaan di desa. Selfie menuju 30 detik dari sekarang.
 
 
ADI
 
mereka meyakini, semakin ke sini
manusia tidak membutuhkan kitab-kitab
rumah ibadat dan nabi. karena mereka tau
kitab-kitab, rumah ibadat, dan nabi telah menjelma:
jalan layang, hotel, buku, sekolah, dan telepon genggam
yang bisa ditemui untuk berkonsultasi
sambil ngopi di meja kerja-Nya
 
 
SKENARIO ARUS MUDIK
 
Jika ingin menemani, maka doa-doa dan rezeki dari manusia desa
ke kota, kota ke desa akan tiba pada perjamuan tiap tahun itu, kata
manusia-manusia. Napas ke napas, langkah ke langkah, umur ke
umur mengepung jalanan tiap lebaran. Tak peduli siapa, apa,
bagaimana, berlayar ke pangkuan genus lahir adalah ritual. Orang
tua yang kesepian, melambaikan tangan minta beberapa
percakapan. Teman-teman yang ramai, melonjak-lonjak dari
anak ke anak. Pohon-pohon dulu masih bibit, telah tumbuh
melampaui waktu-waktu. Kambing dan sapi terus bernyanyi
meski suaranya limbung. Sumur-sumur belum kering dari air
pertama kali mandi saat lahir. Mereka: menabung keringat dan
darah dalam gempita klakson dan rapat-rapat kendaraan.
 
Bagaimana denganku? Haruskah aku menonton saja di layar kaca
tentang jalanan yang tak pernah tidur, kecelakaan yang tak surut
dari ban ke ban, bemper ke bember, dan tangan kepada kepala
yang bertubrukan?
 
Oh, kawan. Kau sepertinya belum piknik, ya?
 
 
SKENARIO MENYUSUN ANTENA
 
1.   Skenario Antena Kedai
Kopi yang belum disiram ke matamu akan berakar menjadi
pohon kopi di bawah kantung matamu. Teh yang belum Baca Selengkapnya!
Comments