Buku Puisi Dapur Ajaib - Alfian Dippahatang

Comments · 93 Views

Dapur Ajaib terdiri dari 5 bagian, yaitu Akronim (6 puisi), Makan Coto (6 puisi), Sejarah dan Lain-lain (19 puisi), Ayahku Bukan Suami Pengecut (1 puisi) dan Membuat Teori (8 puisi).
Sepilihan puisi Alfian Dippahatang dalam Dapur Ajaib

Buku Puisi Dapur Ajaib - Alfian Dippahatang

Data buku kumpulan puisi
 
Judul : Dapur Ajaib
Cetakan : I, Februari 2017
Penerbit : BASABASI, Yogyakarta.
Tebal : 104 halaman (40 puisi)
ISBN : 978-602-391-330-5
Penyunting : Faisal Oddang
Tata letak : Amalina
Tata isi : Ika Setiyani
Pracetak : Agus Gendut
 
Dapur Ajaib terdiri dari 5 bagian, yaitu Akronim (6 puisi), Makan Coto (6 puisi), Sejarah dan Lain-lain (19 puisi), Ayahku Bukan Suami Pengecut (1 puisi) dan Membuat Teori (8 puisi).
 
Sepilihan puisi Alfian Dippahatang dalam Dapur Ajaib
 
Dapur Ajaib
 
Dapur yang paling mantap memproduksi makanan
adalah dapur yang bersumber dari lidah
seorang ibu. Rela lembur setiap hari,
demi tuntas menemukan rasa paling rasa.
 
Banyak orang asing yang takjub mencicipi makanan
yang ditakar dari lidah ibu,
kini dianggap seperti mukjizat
 
Bekerja setiap hari memang melelahkan,
tetapi yang namanya kesetiaan bagi ibu,
akar yang sudah kekar menyatu inti tanah.
 
Dapur itu ajaib juga ya ayah,
anak kecil itu menimpali ayahnya
yang berkisah mengenai ibu dan dapur ajaibnya.
 
Lidah ibu, sekarang jadi kiblat masakan
yang dipercaya oleh orang yang senang dengan mitos.
 
 
Sibuk di Dapur
 
Kesetiaanku terbangun saat melihatmu
sibuk di dapur menyiapkan makanan.
 
Aroma kebahagiaan itu tercium dari tumis
bumbu yang sedap kuhirup dari racikanmu.
 
Hawa panas dari perapian membuat wajahmu
yang keringatan dan berminyak kian beraura.
 
Pancaranmu kulihat jelas, bahwa kesiapanku
menerima beban dalam cinta kubawa sampai mati
 
Kita berkunjung ke pasar melengkapi bahan-bahan dapur.
Buatmu selalu semangat memasak makanan enak-enak.
 
Kini, jejak kakimu tak lagi menyentuh lantai dapur.
Perutku tabah makan apa saja, tubuhmu kian akrab di
            kasur.
 

 
Kospin
 
Apa senangnya menjadi penggembala sapi?
Apa senangnya menjadi pembuat coto?
Jika kebetulan aku berada di tempat saat orang tuaku
ditanyai seperti itu oleh seseorang, selalu kudengar
            jawaban sederhana.
tetapi, cukup membuat si penanya berpikir seolah tidak
            menyangka.
 
Aku bahagia dan sedih dengan cara tak biasa
berada dalam keluarga yang tenang menyikapi masalah.
Termasuk ketika keluargaku tersangkut
kasus Kospin sekitar tahun 1990-an.
Semua berlalu dengan kerja keras keluarga.
Kisah yang kadang membuat orang tuaku berkaca-kaca
jika mengingat masa lalunya.
 
Masa lalu bagi orang tuaku,
kendaraan yang memang tak mewah.
Tetapi, mesti terus melaju.
 
Aku kuat karena pengaruh punggung
dan otak yang terbukti lepas dari jeratan Kospin.
 
 
Daging Sapi Impor
 
Sewaktu kecil, aku tak kepikiran
memiliki cita-cita. Selain setiap
hari aku membantu ayah menjaga
kesehatan sapi-sapi. Aku tak pernah
merasa sepi saat itu. Setelah sapi-sapi
dijual—aku tak tahu harus menyibukkan
apa lagi. Ayahku ditangkap polisi
enam jam kemudian setelah ketahuan mencuri.
Hasil curian ayahku, kutahu demi
kebutuhan sekolahku. Sejak itu,
dadaku bergolak melihat ayahku
dipaksa-paksa dan sedikit gerakan
yang mirip kungfu, istilah yang
sering diperdengarkan temanku
saat bercanda ingin memukulku.
Kini, bertahun-tahun kemudian,
ayahku pulang dengan kesedihan
ke pangkuan-Nya dan sudah pasti sekarang
aku terus berjuang memenuhi
semaksimal mungkin utang budiku
kepada paman dan tanteku
yang sukses di perantauan.
Tapi hari ini aku merasa bersalah
tak bisa berbuat apa-apa.
Mereka ditangkap karena 143,5 ton
daging sapi impor disita
Bea cukai Tanjung Priok
sebelum menuju lokasi tempat
paman dan tanteku mengembangkan usahanya.
Dari sanalah aku dikasihani
dan meraih cita-cita jadi pelayan keamanan
bukan dituduh memuluskan
kenyamanan masyarakat tertentu.
 
 
Porsi
 
Jika ada satu porsi sayur yang dibuat ibu
lain dari biasanya, maka ia
akan bilang kepadaku,
“Coba dulu nak. Jangan langsung
bilang tidak suka,”
Selalu begitu.
 
Tidak hanya masakan.
Dalam hal lain, kalimat ibu
selalu mengarahkanku,
kurang lebih begini motivasiku,
“Jangan putuskan dulu dari bentuk luarnya
sebelum memeriksa hawa dalamnya.”
 
Ah, ibu memang peta pengetahuan.
 
 
Menjamu Tamu
 
Ibu tak akan membiarkan teman-temanku
yang datang berkunjung ke rumah
pulang sebelum makan nasi.
 
Kata ibu, taka da gunanya pandai memasak
jika hanya orang rumah yang mencobanya.
Orang lain penentu kelezatan untuk
membenahi racikan masakan selanjutnya.
 
Ibu selalu senang jika ruang tamu ramai.
Ibu tak ingin rumah sepi dan jika itu terjadi,
ibu akan membuat acara makan-makan.
 
Kata ibu lagi, suatu malam sebelum
dirinya berpesan kepadaku mencari isteri yang pandai
            masak.
Ia melihat perempuan berpakaian putih
datang menjemputnya membawa sendok dan garpu.
 
Ibu telah menjadi ibu rumah tangga sejati.
 
 
Cerita Seru
 
1.    Ibu bertanggung jawab dengan kebutuhan gizi dan
       makanan keluarga.
2.    Di luar rumah, ayah biasa memesan makanan yang
       kurang lebih sama enaknya
       yang dimasak oleh ibu.
3.    Masakan berlemak biasa disajikan ibu dan selalu ada
       buah-buahan di meja makan.
4.    Lidah ayah, lidah yang pas dengan masakan rumah.
5.    Sehari-hari lantai dapur selalu kotor oleh sisa irisan
       sayur.
6.    Ayahku, Bugis yang tak malu mengupas wortel dan
       bawang putih.
7.    Kepandaian ibu bisa diukur saat melihat hasil kreasi
       masakannya.
8.    Di halaman belakang rumah banyak ditumbuhi lada,
       ayah sangat menikmati makanan
       jika pedas.
9.    Sayur bayam bening sering dibuat ibu.
10. Ayah akan berupaya minum secukupnya sebelum
       makan dan minum sebanyak-banyaknya setelah
       melahap masakan lezat ibu.
11.   Ibu tak bosan-bosan memasak masakan sehari-hari
       yang populer disukai orang.
       Dari wortel, kol, dan lainnya yang memberi vitamin
       yang bagus pada tubuh.
12. Teman-teman bisa melanjutkan cerita seru tentang
       pengalaman mencicipi masakan rumah dari bagian
       mana saja.
 
 
Ayahku Bukan Suami Pengecut
 
1.
Ayahku senang memberikan langsung
pakan bagi sapi-sapi yang diwariskan keluarga.
Karena itu juga, warung coto tak pernah
kekurangan daging sejak mulanya didirikan.
 
Ayahku bertanggung jawab sepenuhnya
atas kebutuhan hidup keluarga. Ia tak
pernah lepas tangan mengarungi pilihan-
pilihan hidup, dari yang dirasakan sederhana
hingga membuat leher seperti dililit tali.
 
Ayahku menyayangkan ibuku memilih
meninggalkan usaha yang mereka bangun.
Ibuku punya keputusan yang ayahku berat
menghormatinya, kesedihan tak bisa dibendung
 
Ibuku akhirnya rapuh ditekan oleh orang tua
ayahku. Dan itu berlangsung tiga tahun,
dan sebagai anak perempuan satu-satunya,
kehadiran anak laki-laki sangat diharapkan
orang tua ayahku. Kiranya, bisa menjadi
pelanjut keluarga untuk memelihara sapi-sapi.
 
Orang tua ayahku masih memercayai,
perempuan jadi pilihan kedua
untuk menjadi pemimpin dan melindungi usaha.
Orang tua ayahku tak pernah mau
menerima masukan, lebih-lebih kritikan.
Suasana rumah berkabung seperti dikepung kabut.
 
Ibuku melaju pergi.
 
2.
Selalu kulihat tatapan ayahku kosong.
Hidupnya hampa dan mungkin jauh terempas.
Sebab, masalah apa yang tak butuh direnungi?
Ayahku tak kuasa merenangi dalam-dalam.
 
Kata dokter, ayahku mesti banyak baring.
 
3.
Ayahku seorang pendiam dan baru tahu
dari sebuah penelitian bahwa dalam sehari
laki-laki hanya bicara sebanyak 7.000 kata.
Menurutku, tak sampai sebanyak itu ayahku
menggunakananya. Ia lebih banyak mendengar
dan membahasakan apa-apa dengan tatapannya.
Terlebih ketika ibuku membuat danau
kesedihan meluap di dada ayahku.
 
Ibuku selalu memberi kesempatan kepadaku
untuk banyak bermain. Ibuku percaya,
aku bisa menjaga diri. Dan kepercayaan
tak tumbang karena tak ingin menguasai
 
4.
Ibuku tak pernah putus memberi kabar.
Ia baik-baik saja dan memberi syarat
akan menyempatkan waktu menjenguk ayahku
jika kakek dan nenekku tak ada di rumah.
Tapi, itu mustahil. Ayahku tak bisa
ditinggal sendiri, karena gangguan kesehatan.
 
Maka kukerahkan ide brilianku
untuk meloloskan ibu menemui ayahku.
Iya, tengah malam itu, langkah ibuku
membuat air muka ayahku perlahan bersinar.
Ibuku tak bisa berlama-lama.
Ia mencium bibir ayahku
yang kelihatan bahagia, tak mampu
mengucapkan sepatah kata.
 
5.
Kakek dan nenekku membuka restu
kepada ayahku agar mencari pengganti.
Tapi, orang tuaku belum resmi cerai.
 
 
Berengsek
 
Kita sama-sama berengsek
Tak punya niat untuk mendesak
perasaan kita yang sejak dulu
selalu malu-malu mengakuinya.
Padahal, cinta kita memiliki ketenangan
—kita membuatnya kamuflase.
Mungkin karena kita hidup pada era
di mana cinta sudah memiliki etalase.
 
Kian tabahkah kita atau jiwa kita
lumpuh pada perbedaan tabiat?
 
Dalamnya kita menyembunyikan cinta,
permukaan tenang yang sulit
kita terawang pada diri sendiri.
Diri kita, mungkin sudah
tak kita kenali atau jangan-jangan
—memang kita tak punya janji saling mengikat.
Lalu, ingkar pada kebersamaan
yang membuat kita benar-benar berengsek.
 
Kian tabahkah kita atau jiwa kita
lumpuh pada perbedaan tabiat?
 
Masa depan kita semakin jauh,
sebab masa lalu semakin dekat
membuat perbedaan kita
—semakin asing menyambangi pantai
dan jadi asin dicecap pada kuah coto.
Kita semakin berengsek
mengenali cinta. Berengsek
yang tahu diri, tapi tak ingin berjuang.
 
 
Sarang Kenangan
 
Yang menarik dari tarikan senyumanmu,
karena di sanalah letak sarang kenangan
—yang tak sia-sia kulihat
di saat menimbang rasa kuah coto di ujung
telunjukku. Sebelum engkau memunggungiku,
yang tak bisa kutangkis, dadaku
bergetar melihatmu menangis.
Pernah membuat air matamu jatuh
karena menumis cabai.
 
Aku tak ingin mengemis karena telunjukmu
telah kekar membuat pandanganku rabun
dan menganggap sepi di hidupku
saat ini adalah sesuatu yang berbahaya.
 
Lahan luas di belakang rumah, rumah bagi sapi-sapi
yang jumlahnya mungkin berkurang atau bertambah.
Rasa peduli itu perlahan hilang selera, beriringan dengan upaya
pelanggan yang satu per satu memilih makan siang
di warung CoDa (Coto Dieng) di Jalan Andi Tonro,
warung tetangga yang launching seminggu lalu.
 
Selalu kuputuskan menunda mencari langkahmu
yang tak kutahu arahnya ke utara atau ke barat,
rencana yang tak ingin menjadi sarang kenangan.
 
 
Sejarah
 
1. Info
Mungkin ini bukan info penting,
tetapi aku percaya—separuh dalam hidup
sudah jadi sampul buku yang mesti dibuat menarik
sebelum dipajang di toko buku kapitalis.
Info ini tak ada kaitannya sama sekali
dengan kegalauanku ditinggal pacar,
meski sudah kuanggap aku mengukir sejarah
dengan tidak lebih dulu memberi sakit.
 
Hanya memberitahu, ada temanku yang percaya sejarah.
Disapa Aco dan bernama lengkap Muhammad Ali.
Yang ketika namanya pertama kali kudengar
biasa-biasa saja karena itu hal umum.
Tetapi, di pikiranku tertinggal sesuatu
untuk kucari latar belakangnya.
Sebab, Muhammad Ali juga nama lengkap kakekku
yang sudah kutahu sejarah lahirnya nama itu.
 
Aco bekerja sebagai barber.
Kakekku bekerja sebagai penggembala sapi.
Mereka memperkaya pengalaman hidupku
dan mendirikan tugu sejarah di pikiranku.
 
2. Tradisi Lisan
Aku mengenal Aco sekitar tahun 2012
dan pernah bertemu dengan kakekku tahun 2014
saat Aco kuajak liburan di kampung.
Aco dan kakekku suka tradisi lisan.
Aco suka mendengar orang menyuarakan mantra.
Kakekku penutur barazanji.
 
Pada suatu waktu  oleh seorang pendiri band
berketurunan Tiongkok. Aku didaulat membaca
penggalan cerita kitab La Galigo di sebuah pementasan
yang ia garap. Saat itu, Aco memainkan bass
mengiringi suaraku. Esoknya, kuungkapkan kisah
pementasanku kepada kakekku melalui telepon.
 
Sebelum percakapanku berakhir, kakekku berpesan
Untuk menyampaikan mantra kepada Aco,
Kiranya bisa membuat warungnya digilai para penikmat
            coto.
 
3. Refleksi
Dua tahun kemudian aku baru tahu, Aco ini seorang
yang memang hebat. Lincah tangannya berhasil memangkas
rambutku sesuai selera. Model jomblo masa kini
yang suka makan daging sapi.
 
“Memangkas rambut, memangkas separuh ingatan
yang pedih,” kataku seolah-olah filosofis
kepada Aco yang penasaran dengan kisah cintaku,
berakhir akibat chat mesra pacarku
via facebook dengan lelaki lain.
 
“Pedih adalah usaha mencari uang!”
Definisi yang Aco ungkapkan membuatku terkejut.
Tetapi, tak kuperlihatkan respons itu.
Belakangan kutahu, Aco anak orang kaya.
Ia mendirikan dua warung coto
yang setidaknya bisa memperkerjakan
orang pinggiran kota.
 
Aco seorang pekerja keras dan pribadi sederhana.
Cita-cita Aco kuanggap sangat mulia.
Ia memulai sesuatu dari satu untuk bisa main bass
dan tidak ingin santai di rumah.
Ia putuskan untuk tetap setia menjadi barber
untuk bisa melupakan jomblonya.
Alasan yang kurang masuk akal,
tetapi kuyakini, karena itu fakta
yang kulihat sendiri.
 
Aco serius membisikkan cita-citanya kepadaku.
Ternyata, aku punya cita-cita yang serupa
dengannya dan direstui kakekku.
Cita-cita yang memiliki sejarah
dianggap keliru oleh orang saleh
 
: hus, orang peragu,
bisikan kakekku datang dari jauh.
 
 
Kolesterol
 
Makanan berlemak yang selalu masuk
ke dalam tubuh, tak menyurutkan kita
berkunjung ke warung andalan.
Meski, ukuran baju kita sudah berganti,
kita bahagia karena persamaan kita
semakin hari semakin sehati.
80% kolesterol dihasilkan oleh hati,
bukan hanya coto yang kita konsumsi
menempel pada pembuluh darah
dan terbukti meningkatkan berat badan kita.
Sejak itu, kita tak pernah luput membeli buah-buahan
dan menyempatkan lari keliling lapangan
dua kali seminggu untuk membakar
banyak kalori dalam darah.
Peluh yang menempel pasca olahraga itu,
membuat kita belajar, salah satu kriteria
orang romantis bisa kita buktikan
dengan menggerakkan tangan untuk menyeka.
 
 
Melindungi Sapi
 
1.
Aku mengenal kesetiaan
dari sapi yang kugembala
 
Kesetiaan sungguh susah diraih.
Ia terselip di balik keramaian
yang pasif jatuh cinta.
 
Sapi yang kupelihara
adalah warisan yang paling
disayang keluarga
 
2.
Aku mengenal kesetiaan
dari sapi yang kugembala.
 
Tak ada kesetiaan yang pudar
jika ditemukan dalam keadaan
yang pernah merasakan getar dan getir.
 
Sapi menolongku bertahan
bernapas sekalipun
aku jatuh bangun diterpa prahara
 
 
Tentang Alfian Dippahatang
Alfian Dippahatang lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan, 3 Desember 1994. Tidak selesai di Sastra Indonesia Universitas Negeri Makassar dan melanjutkannya di Sastra Indonesia Univeristas Hasanuddin. Belajar sastra di Komunitas Lego-Lego dan Katakerja. Puisinya banyak tersebar di pelbagai media massa dan antologi bersama. Kumpulan puisinya: Semangkuk Lidah(2016) dan Dapur Ajaib (2017).
 
 
Catatan lain
Alfian menulis 3 paragraf pengantar di halaman 5 dan 6. Judulnya “Hanya dengan Menulis Puisi”. Satu paragraf dari tulisannya muncul di halaman belakang. “Menulis puisi menuntut saya mesti mengendalikan diri saat jatuh cinta dan patah hati,” tulisnya. “Puisi-puisi saya berkaitan erat dengan seluk-beluk keluarga,” tulisnya lagi.
            Dan halaman persembahan buku ini berbunyi: “Buat Ayah dan Ibu/:Amiruddin Angga dan Sitti Nurhaedah/yang selalu jadi pahlawan dalam hidupku.” Oya, di halaman belakang, 103 dan 104, ada promosi buku terbitan Diva Pres & Anita Arfianti. Bukan berupa tulisan, tapi foto buku, yaitu kumpulan cerpen Yetti A.KA berjudul Seharusnya Kami Sudah Tidur Malam Itu dan kumpulan puisi Gunawan Tri Atmodjo Malam Penghabisan bagi Siluman. Halaman berikutnya ada buku Toni Lesmana Tamasya Cikaracak dan buku Isbedy Stiawan Kota, Kita, Malam.
Comments