Konsolidasi Ala BRI, Profitabilitas Aman Berkat Kredit UMKM

Comments · 126 Views

Bank beraset terbesar, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), lagi-lagi menorehkan laba bersih tertinggi di antara BUMN se-Indonesia paruh pertama tahun ini, meski kinerja keuangan di anak usaha masih menjadi tantangan.

Dalam laporan keuangan per Juni 2019, bank pelat merah tersebut

Respon positif ini wajar terjadi mengingat margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perseroan terjaga di 7,02%, tertinggi dibandingkan dengan bank lainnya. NIM mengindikasikan kesuksesan sebuah bank memutar dana simpanan masyarakat yang dikelolanya.



Namun, harus diakui bahwa NIM tersebut terhitung turun tipis, yakni sebesar 62 basis poin (bp) secara year on year (YoY), sebagai akibat tekanan yang diterima oleh para debiturnya selama periode suku bunga tinggi (BI 7-Day reverse Repo Rate pada level 6%).

Uniknya, kinerja positif itu masih bisa dibukukan ketika bank beraset terbesar di Indonesia ini tengah mempercantik kinerja anak-anak usahanya, seperti PT Danareksa Sekuritas yang baru saja diakuisisi pada tahun lalu, dan dua anak usaha perbankan.

Mengacu pada neraca keuangan, perseroan mengalokasikan pencadangan kredit (konsolidasi) senilai Rp 3,83 triliun. Sebanyak Rp 1,49 triliun adalah pencadangan untuk kredit nasabah yang terdampak bencana gempa, dan sisanya Rp 2,34 triliun dari kredit konsolidasi perseroan.




Pada periode tersebut, PT BRI Agroniaga Tbk (AGRO) mencatatkan kredit bermasalah (non performing loan/NPL) sebesar 4,43% atau naik dari posisi akhir tahun lalu 2,86%. Sementara itu, total kredit bermasalah sebesar Rp 779 miliar, naik Rp 331,3 miliar sepanjang tahun berjalan.

Tidak heran, angka CKPN bank yang fokus ke sektor agribisnis ini pun tercatat sebesar Rp 101,5 miliar per Juni 2019, melesat dari 16,5 miliar setahun sebelumnya. Laba bersih tercatat hanya Rp 78,3 miliar, terpangkas 57,9% (yoY) per Juni 2019.

Di sisi lain, PT Bank BRIsyariah Tbk membukukan beban CKPN aset produktif dan non produktif neto senilai Rp 358,5 miliar, membengkak dari posisi setahun sebelumnya Rp 200,5 miliar. Laba bersih perseroan anjlok 70,4% menjadi hanya Rp 30 miliar. Pertumbuhan positif pada pos laba bersih Bank BRI di tengah upaya bersih-bersih buku anak usahanya ini didorong oleh peningkatan total pendapatan bunga (rupiah dan valas) sebesar 11,89% (YoY) menjadi Rp 60,03 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp 53,65 triliun.

Setelah ditelusuri lebih dalam, pendapatan bunga pada kuartal sebelumnya tercatat lebih besar dari perolehan kuartal I-2019, atau tumbuh 9,06% secara kuartalan. Pada kuartal II-2019, BBRI memperoleh pendapatan bunga sebesar Rp 31,31 triliun, sedangkan pada kuartal I-2019 pos yang sama tercatat sebesar Rp 28,71 triliun.

Kontributor utama masih berasal dari sektor mikro, kecil, dan menengah yang menyumbang sekitar 40% dari total kredit yang dikucurkan perseroan. Untuk kredit mikro saja, kontribusinya per Juni 2019 mencapai 35% atau senilai Rp 292,6 triliun, naik dari porsi Juni 2018 sebesar 34%.

Secara historis, NPL tahunan di sektor mikro ini juga sangat rendah, yakni sebesar 1,01% pada 2018. Per semester I-2019, angka NPL sektor mikro berada di level 1,4% atau terendah ketiga setelah sektor konsumer (1,35%) dan sektor BUMN (0,97%). Selama ini, sektor mikro mendapat tekanan kenaikan bunga pinjaman menyusul tingginya suku bunga acuan. Dengan dimulainya pemangkasan suku bunga pada Juli dan Agustus, total sebesar 50 basis poin menjadi 5,5%, sektor mikro pun berpeluang mencatatkan kinerja kinclong lagi

Sepanjang semester I-2019, penyaluran KUR perseroan telah mencapai Rp 50,3 triliun, atau 57,8% dari target yang dipatok tahun ini sebesar Rp 86,97 triliun. Mayoritas, atau sebesar 88%, merupakan KUR untuk sektor mikro dan sisanya untuk ritel (termasuk kredit tenaga kerja Indonesia/TKI).

Berbekal keunggulan tersebut, BRI masih menduduki posisi sebagai bank dengan pengembalian ekuitas (return on equity/ROE) tertinggi di Indonesia, yakni sebesar 19% pada kuartal kedua 2019, diikuti BCA (18%), Bank Mandiri (15%) dan BNI (14%).

Jika situasi bersih-bersih saja tak memengaruhi kinerjanya yang moncer, maka bisa dibayangkan bagaimana kinerja BRI akhir tahun ini ketika proyek bersih-bersih sudah usai sementara efek penurunan suku bunga acuan mulai terasa dan menggenjot kinerja para debitur. BRI baru saja melakukan suksesi pada pucuk pimpinan dengan Sunarso hadir sebagai Direktur Utama menggantikan Suprajarto.

Selain itu, juga ditetapkan pengurus baru yaitu Catur Budi Harto, Herdy Rosady Harman, Agus Sudiarto, Agus Noorsanto dan Azizatun Azhimah sebagai direksi Bank BRI serta Loeke Larasati Agoestina sebagai komisaris baru Bank BRI.

Dalam konferensi pers usai RUPSLB, Sunarso mengatakan bahwa perseroan di bawah kepemimpinannya tetap fokus pada pembiayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sebagaimana tujuan awal pembentukan Bank BRI.

"Saya perlu sampaikan, BRI ini bank yang dari lahirnya sana, DNA sudah bank mikro, komitmen tim saya kira tetap konsisten kita akan dominan di UMKM. Dengan misi BRI melayani rakyat sebanyak mungkin dengan harga semurah mungkin," katanya.

Dia mengatakan beberapa langkah yang akan ditempuh ialah menurunkan biaya, proses yang bisa diefisiensikan, mempercepat proses yang bisa dipercepat, dan digitalisasi yang menjadi kunci.

"Digitalisasi akan mengarah dua hal, digitalkan bisnis proses untuk memperoleh efisiensi, kedua digitalisasi menemukan bisnis model untuk create value baru bagi shareholders," tegas mantan Dirut PT Pegadaian (Persero) ini.

Menurut Sunarso yang sebelumnya menjabat Wadirut BRI, langkah kongkret dan sasaran perseroan ialah lebih fokus ke mikro. "Kami akan lebih mikro lagi. Go smaller go shorter, kami menyasar ceruk pasar yang belum disasar account saving yang lain. Go smaller cost-nya tinggi, maka harus go shorter dengan digital," tegasnya. 

Prospek Saham BBRI

Kinerja saham BBRI masih tumbuh positif Sejak awal tahun, dengan pertumbuhan sebesar 14,48% hingga Senin (16/9/2019). Kinerja tersebut tentu membanggakan melihat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya naik 0,4%, serta indeks sektor keuangan yang tumbuh 6,2%.

Melihat perkembangan saham BRI tersebut, tren harga sahamnya sejak awal tahun terlihat bergerak naik (uptrend) pada grafik. Secara jangka pendek tren harga sahamnya masih naik, hal ini terlihat dari palung harganya yang bergerak semakin tinggi (lower high).

Hari ini saham BRI ditutup menguat 60 poin atau 1,43% menjadi Rp 4.250 dan akan menguji level Rp 4.300 pada minggu ini.

Hal ini diperkuat dengan indikator teknikal rerata pergerakan konvergen dan divergen (moving average convergence divergence/ MACD) yang membentuk pola persilangan emas (golden cross), yang menjelaskan kecenderungan arah harga suatu saham.

Comments