Kumpulan Puisi Budhi Setyawan - Penyadaran

Comments · 95 Views

Data buku kumpulan puisi
Judul : Penyadaran
Penulis : Budhi Setyawan
Cetakan : I, September 2006
Penerbit : Bumi Budhi, Jakarta Pusat.
Tebal : xiv + 100 halaman (88 puisi)
ISBN : 979-15264-1-9
Desain cover : Lukisan Telinga Dunia, 2006, Budhi Setyawan

Penyadaran terdiri atas 2 bagian, yaitu Penyadaran (45 puisi) dan Kebangkitan (43 puisi)
 
Sepilihan puisi Budhi Setyawan dalam Penyadaran, Baca selengkapnya!
 
NAFAS EKOR KUDA
 
Bunga yang tumbuh di balik nadi
menarik nafasku mengarungi belantara
menggelitiki hidungku geli
dan bersin menyebarkan salam
 
nafasku yang turun naik memegangi ekor kuda
bertanya-tanya apa maksud sebenarnya
pertikaian membelenggu langkah ubur-ubur
mencari sosok akar kata di pinggir perkampungan
 
pagiku beranjak sendiri, dengan tanpa basa-basi
berlalu meninggalkan kepulan asap rokok
menggelitik hidung alam raya
nafas terbelenggu di bawah tempurung
 
ekor kuda yang menepuk-nepuk mukaku
menjadi tangan kekasih yang lincah
mengelus seluruh sudut kelemahanku
dan terengah-engah memburu bulan bulat di langit
 
lalu dimanakah kini kekasihku?
 
Jakarta, 8 Mei 2001
 
 
MALAM SEHABIS HUJAN
 
Jari malam menancapkan kukunya di kegelapan
langkah angin terhenti tersandung kebekuan
dan rembulan terpaku lesu tertidur di atas awan
binatang malam berpencar menjelajahi tengkuk jalanan
menyebar aroma keterasingan
 
suara tetes air hujan menimpa lembah daun-daun
atau jerit demonstran
atau tangis insan yang bersimpuh di depan nasib
menelanjangi garis tangan
mencari kemana mengalirnya air liur yang membawa
sampan-sampan tanpa kompas
 
malam menanyakan sejarah yang belum bicara dengan
sejujurnya
agar anak cucu tak lagi menembaki burung-burung lagi
yang semestinya jadi penghias damai belantara
 
Jakarta, 17 Januari 2001
 

 
DI MANAKAH
 
Di manakah suka
jika belum air
 
di manakah sabar
jika belum samudera
 
di manakah rindu
jika belum rembulan
 
di manakah kasih
jika belum udara
 
di manakah sayang
jika belum danau
 
di manakah cinta
jika belum matahari
 
di manakah hati
jika belum tanah
 
Yogya Purworejo, 4 Januari 2001 Baca selengkapnya!
 
 
BETAPA SULITNYA MENANGKAP YOGYA
 
Gang-gang sempit dan pasar telah larut ke jagad
beriringan dengan nadi pembuluh memukul-mukul jantung
tiang listrik membungkuk beri hormat pada becak dan andong
tak peduli siang ataupun malam
 
es batu mencair di ubun-ubun petani dan pedagang
mengurai warna-warni nasib dan pengharapan
menetes di mangkok-mangkok keseharian
lelah letih lesu, raih
 
es batu bercampur keringat di keranjang dan bakul
perputaran keadaan
makin padu tanpa ada yang terganggu
sepakat menuruni lembah mendaki bukit, tak apa lecet
sedikit
biar nyala tetap menebar sinar
 
gang sempit masih saja sempit
kadang kian sempit
namun ada jalan yang sangat lapang
di atas langit membentang luas menerawang
 
Pasar Beringharjo (Yogyakarta), 3 Januari 2001, Baca selengkapnya!
 
 
KEMBALI
 
Angin memukul ombak
terlukis di kening pengembara
 
api membakar gubuk-gubuk peneduh
menyambar butiran lembut di bilik jantung
 
air bah tenggelamkan kota desa
bayangan nurani terseret arus perbudakan
 
tanah retak-retak tertawa
menggumam pecahnya kaca jadi beling
 
kisah yang cepat melesat
hanya dengan cambukan ciptoning
sapi-sapi akan segera kembali ke habitatnya
 
Jakarta, 2 Juli 2001
 
 
SENANDUNG SI BISU
 
Dengan menyandang sebuah gitar ukulele
seorang bocah menyanyikan lagu
entah lagu lama atau lagu baru
karena sang penyanyinya seorang bisu
 
suaranya yang parau menggesek terik siang
sesak panas dalam bis kota
mengaduk-aduk pikiran para penumpang
bertamasya ke pengalaman masing-masing
 
irama musik dan lagunya
kadang seperti tak sejalan
atau karena telinga penumpang sulit mendengar
suara-suara yang terlontar apa adanya
 
mungkin dibutuhkan alat bantu dengar
dengan meminjam telinga langit
biar bisa terdengar merdunya nada
dari penyanyi bisu sepanjang jalan
 
senandung si bisu masih terngiang
diterbangkan angin ke pelosok-pelosok rasa
dan menyisakan tanya di kaca jendela bis kota
 
Jakarta, 7 & 8 April 2001
 
 
PINGSAN CINTA
 
Sehelai rambutmu yang terbang terbawa angin
bagai elang mengepak rembulan
membawa lahar merapi merayapi sungai-sungai dalam
dadaku
mengalir menggelora, memacu kijang kencana
menyerbu ke arena lain dunia
 
            malam-malam menunjukkan kekuatannya
            dengan magnet yang sangat lekat
            membentuk jalanan satu arah di alam pikiran dan
            perasaan
            serasa pusaran air yang tak henti
            kian deras mencipta kerucut meruncing
            mencocok hidung kerbau, meruntuhkan dinding
            keangkuhan semu kepura-puraan
 
tanpa suara dan tanpa permisi
engkau telah mengalirkan lahar selalu
menggolakkan magma di dasar bumi,
ke pipa-pipa biru dalam tubuhku
manjakan bintang-bintang menyorotkan
sinar ke dedaunan basah
mewadahi tenaga api, angin, air, tanah
 
            jagadku yang kecil
            kebingungan membaca scenario zaman
            saat semua tenaga menerpa, unjuk gigi
dengan wajah berwarna-warni
            lengkap dengan alat sesaji
 
            ini terlalu menyenangkan
            ini terlalu menggembirakan
            ini terlalu berat
     sedangkan seorang Musa pingsan di hadapan
     Bukit Tursina
 
aku tak ingat apa-apa
dengan aliran lahar selalu
aku telah menggali sumur
terus masuk ke pedalaman sumur
dengan sarat mata air
ingin… ingin …
                       
Jakarta, 23, 24, 25 Pebruari 2001
 
 
POSTER
 
Poster-poster yang terpampang
di kamar, di tempat hiburan, di jalan-jalan
telah menjadi hantu dalam aliran darah
menakut-nakuti anak kehidupan
mengajak ke dunia kepul uap pelarian
ngeri berpapasan dengan butiran realitas
 
mata nanar tanpa pandangan
keluar pagar menggapai-gapai awan
mainkan warna, menyusup ke keramaian pasar
merajuk dunia menggendong serpihan keramik lantai
memukul-nukul dari balik baju
lewat jalan becek berlumpur
menggenang sampai di kebun anggur
mata tak melihat apa-apa
 
poster-poster kian ramai beterbangan di angkasa
bergerak lincah tinggalkan laju pesawat
menyibak ketenangan menyemprotkan gas ketagihan
tak peduli hujan atau panas
bagai tanpa batas
 
Jakarta, 9 Pebruari 2001
 
 
JANJI KEMBALI
 
Bocah mungil, mengepal tangan
memutar di bawah lampu taman
panas terik menikam batu, daun mencari tempat
teduh ke batang dan samping gedung
 
dunia berputar di atas telapak tangan
uap berasap berkumpul di pagar
putri malu menari di atas nampan
kapan kembali ke tempat asal?
 
angin kota menerbangkan daun jati
orang-orang mendongakkan kepala
barangkali ada sepiring nasi di langit
butir-butir nikmat ada di segumpal
tanah merah
 
Surabaya, 15 Oktober 2001
 
 
SEPERTI TERBANG
 
Saat-saat menggairahkan
mengalir simbol-simbol perwujudan
dalam hitungan lima atau sembarang
seperti terbang
 
Sujud yang panjang
hati telanjang terlentang di awang-awang
melayang bersama suara kepodang
seperti terbang
 
Perjalanan udara
berbekal getar-getar memasuki sifat
lewati persinggahan perjamuan
seperti terbang
 
Sesobek jiwa lari-lari mencari
wujud semesta tanpa batas
kembali di dalam arus
seperti terbang
 
Pengakuan Dzat Agung
kekosongan telah menjadi nikmat
terangkat dari bumi
seperti terbang
 
Jakarta, 30 September 2001
 
 
HAKIKAT
 
Sarapan pagiku adalah air
yang mengalir di bawah bumi
 
makan siang dengan api
membawa pandangan ke pohon sejarah
 
makan malamku adalah tanah, kadang menggerutu
bersama berjanji menumpuk kebijakan
 
jika mengantuk, aku hempaskan tubuhku
tidur di atas ranjang angin
 
lalu mimpi menjadi makhluk langit
 
Jakarta, 1 Mei 2001
 
 
LAUTAN LANGIT
 
Pohon-pohon angin bersinar
menyemburatkan warna-warni isi dunia
keluar dari keranjang
 
gunung dan perbukitan merangkak
mencari tempat persembunyian karena malu
telah gundul, tak berperasaan
takut berpapasan denga isi rimba
 
petir di angkasa senandungkan lagu
mengolah rasa awan mendung
jejari cakrawala mengangkat lautan ke langit
air kembali ke mata air
 
pasir berbusa cerita
pada kepiting yang menapak
 
lautan langit menyatu
peluk mengasihi bumi
 
Jakarta, 30 september 2001
 
 
LARI KUDA
 
Seribu kuda berkecamuk di otakku
menyebarkan kepul debu dan gelombang listrik
dengan nafas memburu kepap rajawali
rumput tembaga menghias mulutnya
 
berputar-putar terjebak dalam perlombaan
mengejar terbang capung, melintasi bayangan bumi
semut-semut berhamburan keluar sarang
mencari gula di jejak tapak kuda
 
mabuk di lautan, minum air laut
kabur pemandangan oleh angka melayang
roda-roda besi melangkah zig-zag
kepal jari meninju dinding kayu
 
pertaruhan,
senandung sepanjang zaman
 
Bandung, 28 Oktober 2001
 
 
ATAS NAMA CINTA
 
Dengan membisikkan kata-kata cinta
seorang laki-laki memeluk wanita kekasihnya
menerbangkannya ke awan yang bergulung-gulung
di langit hasrat dan keinginan
dan ketika tertanam sebentuk benih di rahim dunia
maka sang laki-laki menghilang
entah kemana tak tentu kotanya
 
dengan meminjam istilah cinta
seorang kyai menanamkan bom-bom kebencian
di benak para santrinya
lalu diledakkan dengan menyulutkan api perbedaan
pendapat
dan permusuhan
menggusur nurani dari tahtanya
mengkafirkan sesama umat ego dan eksklusivisme
semu
lupa bahwa hak menetapkan kafirnya seseorang
adalah kepunyaan Tuhan
 
dengan membawa manis kalimat cinta
seorang pemimpin menciptakan segala model dan kreasi
membodohi rakyat, sampai lupa diri sendiri
pemimpin adalah titisan dewa
yang tak mungkin berbuat salah
padahal makhluk yang tak pernah memproduksi
kesalahan
hanyalah malaikat
 
atas nama cinta
seorang manusia berderma
membagi-bagikan barang kebutuhan pada masyarakat
tetapi tanpa disadari masyarakat
di menutupi kelemahannya
dan merancang strategi untuk mengembangbiakkan
kerakusannya
 
Purworejo, 17 Pebruari 2001
 
 
KEDINGINAN YANG MERAMBAT
 
Daun ketela yang bercabang-cabang
menepuk jari-jari tangan
mencipta suara sarat pesan
yang menyergap cuaca
 
roda jaman bergerak cepat melintas di jalanan
meninggalkan jejak tapak kaki kerbau
dalam segenap ingatan
 
gambar tato di tangan
menampakkan kreasi kebingungan
adakah pesan tersimpan
 
bila tangan mengigil kedinginan
apakah sebenarnya yang akan dijadikan
pegangan
 
Banyuurip – Yogyakarta, 14 Januari 2001
 
 
DAN SOEKARNO PUN MENANGIS
 
Berjalan sendirian menempuh takdir
di antara rumput liar angin ribut gemuruh gelombang
tersaruk lecet berdarah menganga
kerikil tajam menegak menyeruak sela sela alas kaki
 
rumput liar subur merajalela menjalar
di sekeliling tanaman padi di sawah ladang
menghabiskan gizi makanan buat padi
 
angin ribut menerbangkan pohon-pohon
tercerabut hingga akarnya
suaranya memangsa sepi dan ketenangan
kerbau sapi lepas kandang menghambur keluar
cuaca gelap mengancam anak-anak bangsa
 
gemuruh gelombang menjulang ke langit
menabrak pertapa di tepi lautan
pertapa lenyap meninggalkan asap semangat
terkadang dibenci tak jarang digali
 
perjalanan penuh duri kerikil tajam
melecetkan jiwa pengembara penggembala
serta pakaian merah putih robek-robek
 
di bawah tiang bendera
yang lusuh dan compang-camping
Soekarno menangis tersedih
tanpa tetes air mata
 
Jakarta, 16 Juni 2001
 
 
Tentang Budhi Setyawan
Budhi Setyawan lahir di Purworejo pada 9 Agustus 1969. Menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada tahun 1998. Aktif menulis puisi sejak kuliah. Bekerja sebagai PNS di Kementerian Keuangan. Kumpulan puisinya: Kepak Sayap Jiwa.
 
 
Catatan lain
Kumpulan puisi ini merupakan buku kedua setelah Kepak Sayap Jiwa. Bunyi halaman persembahan: Kupersembahkan/untuk Dian, istriku/untuk Qiqa, putriku. Nampak kecil di pojok kiri bawah sebuah halaman. Sampul belakang buku, hadir utuh puisi Nafas Ekor Kuda, lengkap dengan tempat dan tanggal pembuatan.
            Si penyair bikin pengakuan dalam kata pengantar sepanjang 5 paragraf (tidak sampai satu halaman): “Terima kasih buat musisi yang telah menerbitkan karya musik apik dan musiknya menemani saya dalam menulis puisi, antara lain: Deep Purple, Rainbow, Queen (A Night at the Opera), Rush, Led Zeppelin, Camel, Genesis (era Gabriel), James Gang, Passport, ELP, Dream Theater, Iron Maiden, Edguy, Stratovarius, dan ADX (heavy metal Perancis, album Weird Vision).” Demikian. 
Comments