Mengapa Lazada Bisa Stabil Bersaing di Indonesia?

Comments · 180 Views

Peta persaingan industri e-commerce di Indonesia semakin ketat seiring masuknya TikTok melalui TikTok Shop. Persaingan yang dari awal sudah sesak ini membuat banyak e-commerce tersingkirkan seperti JD.ID, Elevenia, Blanja.com, dan lainnya. Menariknya, Lazada yang jarang muncul dipublik sep

Sama seperti anak usaha pada umumnya, kemampuan finansial dan ekosistem induk usaha (Alibaba) menjadi keunggulan bagi Lazada. Diketahui Lazada diakuisisi oleh Alibaba pada tahun 2016 sebesar US$1 miliar. 

Perjalanan menjadi raja e-commerce di Asia tentu saja terjal dan tidak luput dari aksi bakar uang. Tercatat Alibaba beberapa kali menyuntikkan dana ke Lazada setelah akuisisi dengan nominal sebesar US$4,99 miliar. April 2023, Alibaba menyuntikkan kembali dana segar sebesar US$845,44 juta agar Lazada kokoh bersaing dengan Shopee dan TikTok. 

Jumlah uang yang digelontorkan Alibaba untuk Lazada sudah lebih dari 5 kali lipat uang akuisisi. Hal ini berbuah sedikit manis yang terlihat dari total gross merchandise value (GMV) Lazada sebagai kedua terbesar di Asia Tenggara setelah Shopee. Alibaba berperan sangat besar membantu kestabilan finansial Lazada untuk bertumbuh.

2. Infrastruktur Lazada

Lazada memang tidak melakukan iklan secara masif dan mengundang artis Korea secara terus menerus seperti Shopee dan Tokopedia, tetapi mereka berinvestasi pada infrastruktur jaringan logistik. Lazada membangun sendiri jaringan logistik mereka yang disebut Lazada Logistics. Lazada memiliki lebih dari 500.000 kapasitas fasilitas penyimpanan dan lebih dari 1500 armada.

Jumlah armada Lazada sudah menyentuh setengah dari jumlah armada Lion Parcel. Menariknya Lazada Logistics tidak hanya menawarkan multi-channel namun juga cross border serta melayani platform lain. Selain logistik, Lazada juga fokus di Lazada Mall dan Lazada Prestige Brand untuk mendongkrak penjualan.

Dari sisi infrastruktur pembayaran, Lazada juga mengakuisisi saham di Dana bersama Sinarmas. Akuisisi Dana membuat ekosistem Lazada menjadi lengkap melalui infrastruktur teknologi, logistik, hingga pembayaran. Mengingat Lazada sudah hadir 11 tahun di Indonesia, suatu keharusan bagi Lazada memiliki infrastruktur untuk merespon pola belanja masyarakat.

3. Push Strategy in Awareness

Jika dilihat sekilas sehari-hari, Shopee memiliki kemampuan meningkatkan awareness merek mereka lebih baik dibandingkan e-commerce lain. Layanan kurir Shopee Food yang lalu lalang membuat banyak orang yang mulai menggunakan kata Shopee Food dibanding Go Food. Melihat fenomena ini, Lazada juga meningkatkan awareness brand mereka melalui kurir.

Lazada mengambil step lebih lanjut dalam hal awareness yang tidak dapat dilakukan ecommerce lain dititik push strategy. Jika kalian membeli smartphone produsen China apapun itu (Oppo, Vivo, Xiaomi, realmi) pasti akan langsung terpasang aplikasi Lazada di sana. Penulis sendiri melihat langkah ini menjadi langkah paling cerdas yang membuat Lazada menjadi pilihan utama berbelanja online bagi pengguna smartphone baru.

Lazada tidak perlu iklan terlalu masif agar pengguna mendownload aplikasi tetapi aplikasi akan langsung terpasang disana. Hal ini menguntungkan Lazada terlebih smartphone yang disebutkan mendominasi penjualan smartphone di negara dengan pendapatan menengah ke bawah termasuk Indonesia. Satu hal yang perlu dilakukan Lazada adalah menjaga keloyalitasan pengguna. 

Dari sekian banyak strategi e-commerce di Indonesia, sebenarnya semua melakukan teknis dan model yang hampir sama. Kalau tidak b2c, b2b, c2c, omnichannel, atau mall. Perbedaan terbesar e-commerce terletak pada ekosistem (anak usaha) yang mereka ciptakan untuk menambah revenue. Shopee mengandalkan ShopeePay dan ShopeFood. Kemudian, Blibli mengandalkan Tiket.com dan Ranch Market.

Melihat anak usaha yang diciptakan kompetitor, mayoritas membuat anak usaha yang bergerak di bidang lain untuk mendiversifikasi pemasukan. Kompetitor juga membangun anak usaha lain sembari membangun ekosistem logistik. Penulis melihat Lazada Indonesia hanya bertumpu di e-commerce (logistik) namun dapat bertahan sejauh ini. 

     

Lazada sejauh ini hanya bertumpu dengan model yang secara garis besar sama dengan lainnya. Kekuatan terbesar terletak pada induk usaha Alibaba yang sangat kuat dari sisi finansial. Selain itu, Lazada Indonesia berhasil mempertahankan seller dan konsumen serta bergantung dengan bantuan Lazada Group.  Apakah Lazada tetap dapat bertahan setelah ada TikTok? Apa mereka akan ekspansi ke industri lain? Pembaca dan penulis akan melihat perjuangan Lazada bertahan di top 3 e-commerce Indonesia. 

 

 

 

Comments